Spectrum autisme adalah gangguan perkembangan pertumbuhan yang dimulai pada saat lahir atau dalam dua setengah tahun pertama kehidupan anak-anak. Sebagian besar anak dengan spectrum autis pada mulanya terlihat sangat normal. Baik secara psikis maupun psikologis. Namun lama kelamaan prilaku membingungkan yang membedakannya dengan anak-anak lainnya mulai terlihat.

Anak dengan spectrum autis cenderung memiliki kesulitan berkomunikasi, membentuk hubungan dengan orang luar dan sulit memahami dunia disekitar mereka. Kecenderungan ini tidak sama antara satu anak dengan anak lainnya.

Pertumbuhan otak dan metabolisme tubuh orang dengan spectrum autis berbeda dengan orang normal lainnya. Tidak ada penyebab tunggal. Sebagian penelitian merujuk pada pengaruh genetik.

Penyebab lainnya adalah virus. Ibu yang terkena virus rubella pada trimester pertama kehamilan memiliki potensi untuk melahir anak dengan spectrum autism. Demikian halnya dengan Virus Citomegalo yang terjadi apabila Titrasi IgG nya lebih besar dari 20 Miu.
Vaksin MMR juga berpotensi menyebabkan autis terkait kandungan virus didalamnya. Demikian halnya dengan bakteri pertusis yang meskipun tidak seberbahaya vaksin MMR namun memiliki potensi yang sama.

Ada banyak faktor penyebab munculnya spectrum autis. Dan ini tidak saja terjadi di negara-negara barat dimana penelitian terkait gen autis dan penyebab-penyebab lainnya gencar dilakukan. Di Indonesia, proporsi spectrum autism pada dasarnya sudah memasuki kategori epidemi.

Pada tahun 2004, Departement Kesehatan mengklaim 1 dari 151 ribu anak Indonesia menyandang autism. Sebagaimana gunung es, bisa jadi angka yang terlihat hanyalah yang dipermukaan.

Autism Dulu dan Sekarang

Dulu, seringkali orangtua menganggap bahwa spectrum autisme adalah nasib yang harus diterima. Autisme dianggap sebagai masalah kejiwaan dan merupakan penyakit turunan.

Sebagian lagi menganggap autism adalah buah dari kelalaian sang ibu. Diberbagai sekolah medis pun autisme tidak secara spesifik dipelajari karena dianggap sebagai domain psikologi. Bukan dunia medis.

Saat ini, spectrum autisme telah menjadi perhatian dunia medis sehingga orang punya pilihan pengobatan. Beberapa diantaranya memberikan peningkatan yang significant. Beberapa lainnya tidak memberikan pengaruh sama sekali.

Sebuah penelitian di Amerika Serikat terhadap 25 ribu orang tua yang memiliki anak dengan spectrum autis memberikan pernyataan yang sangat menggembirakan ketika menggunakan Biomedical Treatment.

Biomedical Treatment bukanlah pengobatan alternatif. Biomedical treatment adalah metode pengobatan berbasis ilmu pengetahuan molekul biologis. Berbeda dengan pengobatan pharmakologi yang ditujukan untuk menekan gejala yang muncul atau menghilangkan gejala yang sudah ada, biomedical treatment ditujukan untuk mengatasi masalah kesehatan yang mendasarinya.

Prinsipnya sangat sederhana: menghilangkan apa yang menyebabkan kerugian dan menambahkan apa yang hilang.

Anak dengan syndrome autis memiliki respon yang berlebihan terhadap racun, makanan dan udara. Mereka seringkali kekurangan berbagai nutrisi, enzim, anti oksidan dan asam lemak esential. Kekurangan inilah yang dipenuhi lewat metode biomedical treatment. Metode yang sama pada dasarnya juga dilakukan pada populasi anak-anak lainnya. Mengerti dan memahami autism akan mendapatkan hasil yang significant bagi kesembuhan anak.

Meskipun tidak dapat berdiri sendiri, fungsi biomedical treatment dalam penanganan anak autis sangatlah vital. Yaitu memperbaiki fungsi metabolisme tubuh sekaligus menghilangkan paparan metal yang menjadi pengganggu fungsi syaraf.
Jeff Bradstreet, MD., FAAFP dalam makalahnya yang diterbitkan oleh The International Autism Research Centre menyebutkan bahwa pendekatan biomedis tidak menghilangkan treatment lainnya, seperti medikamentosa, gizi dan nutrisi, serta therapi.

Bradstreet menggunakan analogi hardware dan software pada sebuah komputer. Disebutkan bahwa masalah biologi dalam spectrum autism sama halnya dengan masalah hardware yang membutuhkan perbaikan mekanik. Sedangkan perilaku, kemampuan bicara dan masalah sensory adalah masalah software. Perbaikan “software” membutuhkan “hardware” yang baik sehingga dibutuhkan team yang tepat untuk memperbaiki jaringan syaraf yang terlanjur rusak oleh gangguan biologis.

Managing Autism Spectrum Disorder

Pada tahun 2003, sebuah institusi di Amerika yang mendedikasikan diri pada masalah autism menyetujui sebuah protokol Managing Autism Spectrum Disorder. Protokol tersebut kemudian digunakan sebagai standart treatment oleh dokter-dokter yang bergabung dalam DAN-ARI.

Gambar 1. Protokol Managing Autism Spectrum Disorder

Dalam protokol yang dibagi menjadi 4 langkah utama ini DAN-ARI menempatkan intrinsik faktor sebagai langkah utama dalam melakukan treatment.

Intrinsik factor adalah langkah-langkah untuk memperbaiki fungsi metabolisme tubuh dan gangguan syaraf yang terjadi. Inilah hardware yang harus diperbaiki terlebih dahulu. Tindakan nya meliputi pemeriksaan laboratorium, biomedical treatment, gizi dan nutrisi dan medikamentosa.

Pemeriksaan laboratorium akan menggambarkan paparan logam yang mengganggu jaringan syaraf dan metabolism anak. Sifat paparan logam ini dibagi menjadi dua yaitu inorganik atau organik.

Pada inorganik, paparan logam seperti mercury, timbal dan lain sebagainya akan menyerang jaringan seperti hati, ginjal atau otak. Sementara pada logam organik, paparan logam berada pada darah dan relatif lebih mudah diatasi.

Untuk menghilangkan paparan logam tersebut dilakukan (diantaranya) dengan kelasi atau perbaikan metabolisme tubuh. Kelasi sama halnya dengan detoksifikasi. Sebuah proses untuk menghilangkan racun/paparan logam dalam tubuh. Metodenya sangat bergantung dengan sifat obat kelasi dan kemampuan tubuh dalam menerimanya, baik itu melalui oral, oles atau melalui anal. Penting untuk memperhatikan intake cairan pada saat kelasi tengah dilakukan. Proses kelasi melibatkan sejumlah obat-obatan yangberkemungkinan besar meninggalkan residu di ginjal. Asupan cairan akan membantu proses pembersihan residu ini dari ginjal.

Metode lain dalam intrinsik faktor yang juga membantu untuk memperbaiki metabolisme tubuh adalah diet. Secara sederhana, diet adalah sebuah proses menentukan pilihan sumber makanan dan minuman.

Pada spectrum autism, diet bukan ditujukan untuk melangsingkan tubuh melainkan pengaturan pola dan konsumsi makanan serta minuman yang dibatasi jumlahnya dan dimodifikasi. Hal ini dilakukan karena anak-anak ini memiliki masalah dengan dalam proses mencerna atau memecah protein gluten dan casein.

Diet Bagi Autism

Proses diet juga dapat mengurangi berbagai gejala atau tingkah laku autistik pada anak.
KIBM menekankan 7 (tujuh) diet pada anak dengan spectrum autism. Diet ini tidak sama antara satu anak dengan anak yang lain dan tidak dilakukan secara berurutan. Semua bergantung pada biomarker anak atau prilaku autistik yang tengah terjadi pada saat itu:

a. Diet Gluten Free , Casein Free dan Sugar Free (GFCFSF)
Diet basic yang dilakukan pada anak – anak autis guna mengurangi gejala atau tingkah laku autistic.

b. Candida Diet
Diet yang diberikan kepada anak – anak yang mengalami gangguan karbohidrat rantai panjang dan biasanya diberikan pada anak yang memiliki riwayat re – overgrowth jamur.

c. Fein Gold Diet
Diet yang diberikan kepada anak – anak yang mengalami gangguan phenol sulfur transferase (PST). PST adalah enzim yang dibutuhkan dalam proses detoksifikasi (pembuangan racun) dalam organ hati.

d. Special Karbohidrat Diet
Diet ini diberikan kepada anak – anak yang mengalami gangguan karbohidrat dan biasanya diberikan pada anak yang menglami kelebihan berat badan (obesitas)

e. Ammonia dan Neurotrasmiter Diet
Diet yang diberikan pada anak yang mengalami gangguan ammonia dan neurotrasmiter akibat tidak sempurnanya pemecahan protein menjadi bentuk terkecil asam amino

f. Oksalat Diet
Diet yang diberikan kepada pasien dengan kadar kalsium rendah

g. Hypoglicemik Diet
Diet yang diberikan kepada pasien yang mengalami kadar glukosa yang lebih rendah.

Satu hal yang patut menjadi perhatian adalah bahwa prinsip tersebut tidak dapat digeneralisasikan terhadap anak yang satu dengan lainnya. Meskipun keduanya memiliki kecenderungan psikis dan psikologis yang sama.

Biomarker

Terganggunya fungsi autoimun anak berbeda antara satu dengan lainnya sehingga intervensi medisnyapun berbeda. Biomedikal Treatment juga tidak dapat dilakukan dengan ketiadaan biomarker – laboratoium penunjang.

Kembali ke dua dekade silam dimana Autism dianggap sebagai masalah kejiwaan. Kalau saja mereka mengetahui bahwa autism adalah semata masalah medis tentunya ada begitu banyak penyandang autism yang kembali kekehidupan normal.

Apakah autism bisa disembuhkan? Ya! Namun dibutuhkan kerjasama mutlak antara Orangtua, Dokter dan Therapis untuk hasil yang terbaik.

Autism bukan influenza, minum obat seminggu lalu sembuh. Autism membutuhkan KEPATUHAN orangtua dalam menjalankan seluruh petunjuk Dokter, Ahli Nutrisi dan Therapis.

Apa itu Autisme?
Dibalik Autism, Lebih Dari Sekedar Gen
Prilaku Menyakiti Diri Sendiri
Saran Untuk Orangtua
Memperkecil Resiko
Prognosa
Kita Bisa Kalahkan Autis
Biomedical Treatments
Menemukan Dokter Yang Tepat
Biomarker
Intervensi Diet
Pengaruh Autism Terhadap Saudara Kandung