Bahaya Jajanan Terhadap Anak, Ancaman yang Terabaikan

Beragam jajanan anak di atas meja yang menggambarkan bahaya jajanan terhadap anak
Semakin banyak pilihan jajanan, semakin sulit anak membedakan mana yang benar-benar aman.

Bahaya Jajanan Terhadap Anak: Kenapa Harus Kita Waspadai?

Pernah terpikir tidak, kenapa anak-anak begitu tergoda jajanan di sekolah? Warna mencolok, rasa manis, dan harga murah—semuanya tampak menggoda. Namun di balik itu, bahaya jajanan terhadap anak sering kita abaikan. Padahal, dari sekadar camilan lucu, bisa muncul risiko serius bagi tumbuh kembang mereka.

Kita sering melihat anak membeli makanan berpewarna mencolok di depan sekolah. Mungkin terlihat menyenangkan, tapi kandungan di dalamnya bisa jadi jauh dari aman. Gula berlebih, pengawet sintetis, dan pewarna buatan—semuanya bisa jadi bom waktu bagi tubuh kecil mereka.

Yang menakutkan, dampaknya tidak selalu langsung terasa. Kadang baru muncul bertahun-tahun kemudian, ketika anak tumbuh dengan pola makan yang salah dan metabolisme yang rusak. Maka, sudah seharusnya kita bicara serius soal bahaya jajanan terhadap anak ini.

Komposisi Jajanan dan Dampaknya bagi Anak

Sebagian besar jajanan anak punya satu kesamaan: rendah gizi, tinggi risiko. Kandungan lemak jenuh, garam, dan gula tinggi membuat tubuh mereka “kenyang semu”—penuh kalori tapi miskin nutrisi. Padahal masa anak-anak adalah fase penting pembentukan jaringan, otak, dan imun tubuh.

Kalau kebiasaan ini berlanjut, dampaknya tidak main-main. Obesitas pada anak kini makin meningkat, dan banyak penelitian menunjukkan kaitannya dengan konsumsi jajanan tidak sehat. Selain berat badan, kadar gula darah yang melonjak juga menjadi pintu masuk menuju diabetes anak, yang dulu hanya ditemukan pada orang dewasa.

Menurut WHO, angka obesitas anak meningkat tajam dalam dua dekade terakhir. Ini bukti bahwa pola makan modern—termasuk jajanan berisiko—sudah menjadi masalah global yang perlu kita tangani bersama.

Dampak Jangka Pendek dan Perilaku Anak

Kita mungkin berpikir, “Ah, cuma jajan sesekali.” Tapi jajanan dengan pewarna dan pengawet buatan bisa menimbulkan efek cepat yang tak disadari. Anak bisa mengalami gangguan pencernaan, kembung, atau diare hanya karena satu bungkus makanan ringan yang tidak higienis.

Belum lagi efek perilaku. Kadar gula tinggi memicu lonjakan energi singkat, lalu disusul kelelahan ekstrem. Anak bisa tampak hiperaktif sesaat, lalu tiba-tiba murung dan sulit fokus. Pola ini, jika berulang, berpengaruh langsung pada kemampuan konsentrasi dan prestasi belajar.

Selain itu, bahan tambahan tertentu bisa memicu alergi, ruam, atau sesak napas pada anak yang sensitif. Kita sering menyebutnya “reaksi biasa,” padahal itu tanda bahwa tubuh mereka menolak zat berbahaya yang masuk terus-menerus.

Laporan Kemenkes juga menegaskan pentingnya asupan gizi seimbang sejak dini untuk menekan dampak jajanan tidak sehat terhadap perilaku dan perkembangan anak.

Dampak Jangka Panjang Bahaya Jajanan Terhadap Anak

Kalau kebiasaan ini dibiarkan, konsekuensinya akan terasa bertahun-tahun kemudian. Anak-anak yang terbiasa jajan sembarangan lebih berisiko mengembangkan penyakit kronis seperti jantung, diabetes, dan hipertensi di usia muda.

Tapi bahaya jajanan terhadap anak tidak berhenti di fisik. Masalah psikologis pun bisa muncul. Anak yang mengalami obesitas sering jadi sasaran ejekan, kehilangan rasa percaya diri, hingga mengalami depresi. Kita bicara soal luka mental yang sering kali tak terlihat.

Dan kebiasaan ini bisa terbawa sampai dewasa. Saat anak tumbuh, mereka mungkin tetap mencari makanan cepat saji, penuh rasa tapi miskin makna—karena itulah yang dikenalnya sejak kecil.

Dampak Sosial dan Lingkungan Sekolah

Jajanan juga bisa memengaruhi dinamika sosial di sekolah. Anak yang sering jajan sembarangan bisa menjadi “trend setter” bagi teman-temannya. Lama-lama, budaya makan sehat makin tergeser oleh budaya jajan instan.

Bahkan, stigma sosial terhadap anak obesitas juga bisa menjadi beban tersendiri. Mereka bisa dijauhi teman atau kehilangan kepercayaan diri. Akibatnya, prestasi akademik pun ikut terganggu karena fokus dan semangat belajar menurun.

UNICEF dalam laporannya tentang pola makan anak sekolah menyoroti pentingnya kebijakan lingkungan sekolah yang mendukung pola makan sehat agar anak tumbuh optimal secara fisik dan sosial.

Langkah Nyata Mengurangi Bahaya Jajanan Terhadap Anak

Masalah ini tidak bisa diselesaikan sendirian. Kita perlu kerja sama antara orang tua, sekolah, dan masyarakat. Mulai dari edukasi sederhana tentang gizi seimbang, hingga kebijakan kantin sehat di sekolah.

Penjual jajanan juga berperan besar. Dengan penyuluhan rutin, mereka bisa belajar menyediakan makanan sehat tanpa kehilangan pelanggan. Bayangkan kalau jajanan anak bisa tetap enak tapi aman—itu langkah kecil dengan dampak besar.

Di rumah, orang tua bisa mulai mengajak anak memasak camilan sederhana. Selain lebih sehat, anak belajar tentang bahan makanan dan cara menjaga tubuhnya sendiri. Bukankah itu investasi terbaik untuk masa depan mereka?

Mau Sampai Kapan Kita Diam?

Kita tidak bisa menutup mata lagi. Bahaya jajanan terhadap anak bukan sekadar isu kesehatan, tapi juga cermin budaya konsumsi kita. Setiap warna-warni manis di plastik kecil itu membawa pertanyaan besar: apa yang sebenarnya kita beri makan pada generasi kita?

Mungkin saatnya kita berhenti menyalahkan anak karena doyan jajan, dan mulai menata sistem yang membuat jajanan berbahaya mudah dijangkau. Kita semua punya peran kecil, tapi dampaknya bisa besar—kalau mau mulai hari ini.

Jadi… apa langkah sederhana yang bisa kita lakukan besok pagi, demi menjaga anak-anak tetap sehat dan bahagia?

author avatar
KIBM
Klinik autism dan immunologi, regenerasi dan estetika di Cibubur. Menangani berbagai masalah kekebalan tubuh seperti kanker, parkinson, diabetes, obesitas, Autism dan untuk kebutuhan estetika.
Klinik autism dan immunologi, regenerasi dan estetika di Cibubur. Menangani berbagai masalah kekebalan tubuh seperti kanker, parkinson, diabetes, obesitas, Autism dan untuk kebutuhan estetika.